Aku tak pernah membeci apapun yang membuatku terluka. Aku akan menjadikan dia sebuah pembelajaran buatku. Aku bisa menajdi lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya.
Semua itu memang sudah diatur oleh Allah. Apapun yang menyakiti hati saya saya yakin Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan. Untuk saat ini memang aku tak mau mengenal cinta itu terleibih dahulu. Hati ini masih terlalu rapuh oleh cinta palsu dan dusta yang dia katakan terhadapku. Rindu yang selalu terucap di mulutnya hanyalah bualan belaka.
Aku menatap birunya langit, menutup kedua mataku sambil menghapus semua tentangnya. Dia yang membuatku menagis. Aku memang sangat mencintainya, kita satu misi, namun semua itu berkhir ketika dia membohongiku, mengingkari janjinya. PALSU, itu membuatku seakan tak percaya akan yang namanya lelaki. Aku memang seakan tak percaya omongan lelalki kecuali Ayah dan saudara-saudaraku. Cinta mereka selalu tulus terhadapku. Namun mereka, apakah dia tulus terhadapku. Aku rasa tidak, mungkin mereka mendekatiku hanyalah kasihan terhadapku, Oh Tuhan mengapa aku tidak bisa seperti mereka yang dicintai.
annarahma blog
Rabu, 14 Oktober 2015
Senin, 12 Oktober 2015
Pertemuan yang tak diharapkan #CintaAnisa
Ba'da Maghrib aku memutuskan untuk pergi ke Gramedia. Lokasinya tidak jauh dari rumah, hanya berjarak 10 menit dari rumah. Saat aku duduk di lantai depan rak BAHASA tiba - tiba ada yang memanggilku.
" Anisa " Sapanya lembut.
Aku menoleh dan tepat dibelakangku berdiri tegak cowok berpostur tinggi, berjaket coklat dengan kaos merah didalamnya. Aku sejenak terdiam dan hanya memandang sambil mengerutkan dahiku.
" Lagi belajar bahasa dayak ya hehehe." Ucapnya sambil mengenakan kaca mata minusnya.
" Iya. " Jawabku ketus.
Aku mencoba tersenyum walau sebenarnya hati ini ingin cepat - cepat pergi meninggalkannya. Aku hanya tak ingin bertemu dengan masa laluku. Masa lalu yang nyatanya selalu membuatku terluka, Membuatku menangis dan penih dengan kebohongan.
Kita berdua pernah memiliki hubungan spesial. Dia temen semasa SMP dulu. Kita mulai dekat semenjak angkatan kami mengadakan reuni. Tapi setahun belakangan ini membuat hubunganku dengannya kurang membaik. Kebohongan dan kekepoannya membuatku menjauh meski aku waktu itu masih sangat menyanyanginya.
" Gimana kabarnya?" Tanyanya. Menghangatkan keadaan yang mendingin.
" Baik kok, ehm aku sepertinya harus pulang." Jawabku dengan tergesa- gesa sambil merapikan buku-buku yang sempat aku baca.
"Kenapa buru - buru ? kamu mau menghindar dariku? kamu tak mau menemuiku lagi?" Tanyanya.
" Tidak, aku tidak sedang menghindarimu. Terus apa? tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi bukan?"
Bagiku memang tak ada yang perlu dibicarakan lagi diantara kita. Aku dan Hendra sudah selesai setahun lalu. Hati ini tak ingin berhianat dengan cinta yang sedang aku pendam dan aku rasakan pada seorang ikhwan yang jauh disana.
" Memutus tali silaturahmi terhadap umat muslim termasuk dosa besar." Lirihnya pelan dan berhasil menghentikan langkahku.
Kali ini dia berhasil menahanku untuk tidak pergi dan tetap pada posisi semula. Aku melangkah dengan dia yang terus dibelakangku.
"Bagaimana kalau kita nonton?" Tanyanya.
" Tidak," Jawabku singkat tanpa memandangnya sedikitpun.
" Baiklah kita makan saja, bagaimana?"
"Aku tidak lapar."
"Temenin aku makan, aku dari pagi belum makan please".
" Baiklah dra." Jawabku lesu.
Langkah kaki ini terasa berat. Seperti ada rasa bersalah teramat besar dalam hati ini. Hati ini sedang mencintai Amir dan berjanji tak akan pergi dengan lelaki yang bukan mahram. Tapi nyatanya aku malah makan berdua dengan Hendra.
Dalam pertemuan itu kita hanya diam, aku sibuk dengan ponselku begitu juga dia. Kita seperti orang asing. Aku tak tau apa yang harus aku katakan dan aku bicarakan dengannya.
"Siapa kekasihmu saat ini?" Tanyanya sambil memutar-mutar sedotan didalam gelasnya.
"Aku tidak mempunyai kekasih, tapi aku sudah meiliki calon, doakan saja supaya aku dan dia baik-baik saja dan berjodoh sehidup sesurga." Jawabku tegas sambil tersenyum.
Tanpa sadar aku mengucapkan itu, aku berfikir siapa dia? Amir? belum tentu Amir juga menyimpan rasa terhadapku. Amir orang baik dan sederhana itu yang membuatku kagum terhadapnya. Meski kekagumanku terkadang menumbuhkan rasa cemburu didalam hati. Ketika Amir memasang foto perempuan dalam akunnya. Hati ini mendadak berhenti berdetak, tumbuh kekecewaan ketika Amir sudah mendapatkan wanita shalihah pilihannya.
Aku hanya menebak tak ingin mempertanyakan hal itu terhadap Amir. Tapi semuanya berubah menjadi rasa syukur ketika Amir mengatakan jika dia bukanlah kekasihnya.
"Aku antar pulang ya?" pintanya.
Aku mengangguk pelan. Bukan karena apa, hari sudah malam sedang ibu tadi mengirim pesan dan mengatakan jika dia tidak bisa menjemput karena harus pergi dengan bapak. Meski berat tapi mau gimana lagi.
Kita berjalan pelan keluar dari cafe, menuruni eskalator, dan menuju tempat parkir. Sepanjang jalan aku hanya diam sambil menunjukkan arah rumahku. Sepeda motor melaju dan berhenti pada gerbang berwarna merah dan berheti.
" Makasih." Aku langsung turun dan menutup pagar.
"Assalamualaikum Nis."
"Waalaukum salam." Aku terus melangkah tanpa menengoknya kembali.
Penuh harap bagiku, jika itu pertemuan terakhirku dengannya. Hati ini terkadang tak dapat berbohong, meski masih tersimpan sedikit namun rasa ini masih tersimpan untukAmir meski tanpa sadar dia membuatku kecewa.
Kamis, 10 September 2015
Sebuah Cinta
Apakah kamu Punya pacar? Siapa Pacarmu? Kenapa gak Pacaran aja jangan Sok Suci.
Pertanyaan itu terkadang sering terdengar dan dilontarkan kepadaku. Namun aku hanya memablas dengan sebuah senyum. Memang sudah sejak lama aku meninggalkan apa itu Pacaran, ya bukan tanpa sebab aku menjauh dari dunia yang namanya Pacaran. Dulu memang aku pernah masuk dalam dunia itu. Menjalin pacaran cukup lama dengan seseorang yang kala itu aku anggap orang special dalam hidupku. Perbedaan yang ada dalam hubungan kita tak pernah menjadi masalah. Namun sedkt demi sedkit aku berfikir jika semua itu tak akan berjalan selamanya indah. Perbedaan dalam kita jelas sangat menajdi sebuah masalah yang amat besar. Perbedaan Tuhan , dan juga sta sering ribut siapa yang akan ikut siapa? Namun sedikit aku berfikir bahkan curhat dengan salah satu teman yang banyak memberi nasehat jika pacaran itu tidak baik. pacaran yang indah itu pacaran setelah menikah. Pacaran hanya akan mendekatkan kita pada Zina dan dosa-dosa yang dibenci oleh Allah. Cinta dari lawan jenis yang belum halal bagi kita sangat tak penting. Mungkin untuk saat ini Cinta yang paling Indah cinta kepada Allah, Rosul, Keluarga kita. Tak Usah takut Jomblo atau tak laku, bukankah jodoh sudah diatur oleh sang pencipta.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Perbedaan kita memang tak akan bisa di satukan, Agama kita berbeda, dan juga dalam Islam melarang tentang pernikahan beda agama.
Pertanyaan itu terkadang sering terdengar dan dilontarkan kepadaku. Namun aku hanya memablas dengan sebuah senyum. Memang sudah sejak lama aku meninggalkan apa itu Pacaran, ya bukan tanpa sebab aku menjauh dari dunia yang namanya Pacaran. Dulu memang aku pernah masuk dalam dunia itu. Menjalin pacaran cukup lama dengan seseorang yang kala itu aku anggap orang special dalam hidupku. Perbedaan yang ada dalam hubungan kita tak pernah menjadi masalah. Namun sedkt demi sedkit aku berfikir jika semua itu tak akan berjalan selamanya indah. Perbedaan dalam kita jelas sangat menajdi sebuah masalah yang amat besar. Perbedaan Tuhan , dan juga sta sering ribut siapa yang akan ikut siapa? Namun sedikit aku berfikir bahkan curhat dengan salah satu teman yang banyak memberi nasehat jika pacaran itu tidak baik. pacaran yang indah itu pacaran setelah menikah. Pacaran hanya akan mendekatkan kita pada Zina dan dosa-dosa yang dibenci oleh Allah. Cinta dari lawan jenis yang belum halal bagi kita sangat tak penting. Mungkin untuk saat ini Cinta yang paling Indah cinta kepada Allah, Rosul, Keluarga kita. Tak Usah takut Jomblo atau tak laku, bukankah jodoh sudah diatur oleh sang pencipta.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Perbedaan kita memang tak akan bisa di satukan, Agama kita berbeda, dan juga dalam Islam melarang tentang pernikahan beda agama.
Pernikahan antara wanita muslimah dengan pria non-muslim, menurut kalangan Ulama’ tetap diharamkan, baik menikah dengan pria Ahli Kitab maupun dengan seorang pria musyrik. Hal ini dikhawatirkan wanita yang telah menikah dengan pria non-muslim tidak dapat menahan godaan yang akan datang kepadanya. Seperti halnya wanita tersebut tidak dapat menolak permintaan sang suami yang mungkin bertentangang dengan syariat Islam, atau wanita itu tidak dapat menahan godaan yang datang dari lingkungan suami yang tidak seiman yang mungkin cenderung lebih dominan
Dalil naqli pernyataan tentang haramnya pernikahan seorang wanita muslimah dengan pria non-muslim adalah Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 5, yang menyatakan bahwa ALLAH SWT hanya memperbolehkan pernikahan seorang pria muslim dengan wanita Ahli Kitab, tidak sebaliknya. Seandainya pernikahan ini diperbolehkan, maka ALLAH SWT pasti akan menegaskannya di dalam Al-Quran. Karenanya , berdasarkan mahfum al-mukhalafah, secara implisit ALLAH SWT melarang pernikahan tersebut.
Dalam Kitab tafsir Al-Tabati karya Imam Ibnu Jarir At-Tabari, menuturkan Hadits Riwayat Jabir bin Abdillah bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda
“Kami (kaum muslim) menikahi wanita Ahli Kitab, tetapi mereka (pria Ahli Kitab) tidak boleh menikahi wanita kami”
Menurut Imam Ibnu Jarir At-Tabari, meskipun sanad-sanad Hadits tersebut sedikit bermasalah, maknanya telah disepakati oleh kaum muslimin, maka ke-hujjah-annya dapat dipertanggungjawabkan.
Kesimpulan
Sebenarnya pernikahan antara pria muslim dengan wanita Ahli Kitab diperbolehkan dalam Islam, tetapi karena saat ini sangat sulit sekali ditemui wanita Ahli Kitab yang benar-benar “Ahli Kitab”, maka saya dapat simpulkan bahwa pernikahan beda agama yang ada saat ini tidak dapat dikatakan sah karena hampir tidak ada wanita Ahli Kitab yang benar-benar berpegang teguh kepada Kitab Taurat dan atau Kitab Injil. Karena kedua Kitab suci tersebut yang ada saat ini bukan Kitab Taurat dan Injil yang asli. Sedangkan bagi wanita muslimah yang menikah dengan pria non-muslim, baik pria musyrik maupun pria Ahli Kitab tetap dihukumi haram
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda
“Wanita itu dinikahi karena empat hal; karena hartanya; karena keturunannya; karena kecantikannya dan karena baik kualitas agamanya. Maka pilihlah wanita yang baik kualitas agamanya, niscaya kalian akan beruntung”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka bagi kaum muslimin dan muslimah, alasan pernikahan beda agama dengan alasan cinta, kesamaan hak, kebersamaan, toleransi atau apapun alasannya tidak dapat dibenarkan.
Perlu pula ditegaskan bahwa masalah pernikahan pria muslim dengan wanita Ahli Kitab hanyalah suatu perbuatan yang dihukumi boleh dilakukan, namun bukan anjuran, apalagi perintah. Karenanya pernikahan yang paling ideal dan yang bisa membawa kita selamat di dunia maupun akhirat serta membawa keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah adalah pernikahan dengan orang seagama yaitu Islam.
Langganan:
Postingan (Atom)